Bunga di Tepi Jalan
Minggu, dini hari. Mengapa tidak memperlakukanku dengan lembut? Apakah hasrat itu terlalu tinggi hingga membuat mereka lupa daratan. Bahwa mereka sedang bermain dengan manusia, bukan binatang. Terlebih aku tetaplah seorang perempuan. Sehina hinanya diriku di mata tuhan, bahkan di mata manusia lainpun. Aku tetaplah seorang perempuan yang menginginkan sentuhan kelembutan dan cinta. Tunggu, apa yang baru saja ku katakan. Cinta? Mana mungkin manusia seperti aku ini bisa mendapatkan cinta. Mungkin bagiku, cinta adalah uang. Saat mereka bisa memberiku uang banyak dan aku hanya harus menghilangkan sepi yang mereka rasakan selama beberapa jam saja. Mudah bukan untuk mencari kebahagiaan di dunia ini? Dan sial, sekali lagi pertanyaan itu menghantuiku. Apakah aku akan selamanya begini? Bahkan memikirkannya lebih jauh saja aku tak mampu. Ah sudahlah, hari sudah malam. Maksudku sudah menjelang subuh. Aku harus tidur untuk besok bersiap menemui dosen sok suci itu. ** Bunga merebahkan tubuh lan...